Perjuangan Dermama Menemukan Pengobatan Regeneratif untuk Pasien COVID-19

+

Novel coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global dengan tingkat mortalitas yang signifikan. Wabah ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Para ahli di berbagai negara, berupaya keras melakukan penelitian untuk menemukan ‘terapi’ yang tepat bagi pasien COVID-19 demi menekan angka mortalitas. Walaupun sampai saat ini diyakini bahwa sebagian besar pasien penderita penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya, namun tingkat kematian tergolong relatif tinggi (7,34% di Indonesia pada 26 Maret 2020). Ini menjadi tantangan besar bagi para ahli agar sesegera mungkin menemukan jalan untuk mengendalikan memburuknya kondisi pasien yang berujung pada kematian.

Beberapa studi pada penderita COVID-19 di Wuhan menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami ARDS (Acute respiratory distress syndrome) yang ditandai adanya BADAI SITOKIN (cytokine storm). Dalam kondisi sehat, SITOKIN adalah protein yang dihasilkan oleh sel sebagai respon terhadap serangan virus atau bakteri. SITOKIN berfungsi memberi sinyal komunikasi darurat memanggil sistem imun seperti sel-T pembunuh (Killer T-cell), makrofagus (Macrophages), dll untuk membunuh sel terinfeksi dan efeknya mengakibatkan INFLAMASI.

Pada infeksi COVID-19 terjadi DISREGULASI respon pada sistem imun yang menyebabkan sindrom BADAI SITOKIN. Bekerja seperti hackers, COVID-19 mensabotase komunikasi antar sel sehingga sistem imun seperti sel-T  membunuh bukan hanya sel terinfeksi tetapi juga sel-sel yang sebenarnya sehat. DISREGULASI respon ini mengakibatkan HIPER-INFLAMASI (hyperinflamation) yang kemudian berlanjut dengan kerusakan organ tubuh. Hal ini nampaknya merupakan penyebab tingkat kematian tinggi pada pasien  COVID-19. Kondisi yang mirip sebenarnya juga ditemukan pada infeksi akibat corona virus lainnya seperti  SARS-CoV (2003) dan MERS-CoV (2012). Walaupun dunia telah mempunyai pengalaman dengan kedua virus ini, sampai sekarang belum ditemukan gold standard therapy untuk meredakan BADAI SITOKIN akibat infeksi virus ini.

Di Indonesia sekelompok peneliti sel-punca pimpinan DR.dr. Indah Hidajati Kampono, SpDV(K.), FINS.DV., FAA.DV. di  Dermama Bioteknologi Laboratorium (DBL) SOLO melihat peluang dan berjuang menemukan cara MEREDAKAN sindrom BADAI SITOKIN pada infeksi COVID-19. Para peneliti ini telah melakukan penelitian selama beberapa tahun terakhir memproses sel-punca mesenkimal (Mesenchymal Stem Cell) untuk menghasilkan EKSOSOM (exosome).

EKSOSOM merupakan vesikel dengan ukuran 30-100 nanometer (nano-vesicle) yang berasal dari sel punca mesenkimal untuk berkomunikasi ke sel-sel lainnya. EKSOSOM sendiri bukanlah sel punca dan tidak mengandung sel (cell-free). Ia adalah alat komunikasi antar sel (extra-cellular). Vesikel nano ini  mengandung molekul bioaktif seperti protein, lipid, messenger RNA (mRNA) dan regulatory microRNA (miRNA). Begitu tiba di tujuannya, ia akan bekerja di jaringan sel target. EKSOSOM dari sel punca mesenkimal ini mampu me-REGULASI serta me-MODULASI lingkungan mikro sistem imun  (immune microenvironment) di jaringan sel target ini.

miRNA yang terkandung di dalam EKSOSOM dari sel punca ini, seperti miR-146a dan miR-181c merupakan komponen IMUNO-MODULATOR utama yang mampu melakukan REGULASI sel-T dan diikuti dengan PENURUNAN KADAR SITOKIN penyebab HIPER-INFLAMASI. Terapi menggunakan EKSOSOM dengan kandungan miRNA lebih aman dibandingkan terapi sel punca. Ini karena EKSOSOM bersifat cell free walau dihasilkan oleh sel punca, sehingga tidak menyebabkan reaksi penolakan, pembentukan tumor, maupun pembentukan emboli yang masih menjadi kendala dalam terapi sel punca.

Hal ini memberi harapan bahwa EKSOSOM yang diproses dari sel punca mesenkimal mampu meredakan BADAI SITOKIN dan mencegah kematian pada infeksi COVID-19. Akan tetapi harapan pengobatan COVID-19 dengan menggunakan EKSOSOM ini masih berupa HIPOTESA yang perlu dibuktikan melalui berbagai penelitian. Penelitian klinis yang telah  dilakukan oleh peneliti Dermama selama ini adalah pada pasien luka akut dan luka kronis seperti diabetic foot ulcer, spinal cord injury dan brain stroke. Dalam kondisi normal, pembuktian untuk pasien COVID-19 ini masih panjang jalannya dan membutuhkan biaya besar melalui berbagai penelitian, baik in-vitro, in-vivo translasional maupun klinis.

Para peneliti Dermama masih membutuhkan waktu berjuang meneliti untuk pembuktiannya secara ilmiah. Akan tetapi dalam kondisi darurat pandemik seperti ini apakah kita masih punya waktu? Mari kita berdoa, memberi semangat dan dukungan agar para peneliti Dermama memiliki peluang, tenaga dan waktu untuk menguji EKSOSOM untuk penyembuhan pasien COVID-19.

Ditulis oleh oleh Ir. Ontoseno Sastrosoekotjo, penggiat pengobatan regeneratif berbasis sel di Dermama, Solo.

DERMAMA BIOTEKNOLOGI LABORATORIUM (DBL) adalah Laboratorium R&D yang sejak 2015 telah memperoleh Izin Operasional Pengolahan Sel-Punca dari BKPM/Kementerian Kesehatan R.I. no.1/I/IO/KES/PMDN/2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *